Sebaliknya saya sudah menghabiskan sebagian besar waktu berfikir saya untuk menganalisa kenapa Kurt Cobain, Jim Morrison, Jimi Hendrix atau mungkin Shannon Hoon membunuh diri mereka sendiri. Apakah mereka menderita demi kesenian yang mereka jalani (atau mungkin karakter misantropis saya yang bisa sedikit memahami bahwa bunuh diri adalah tindakan terakhir yang melibatkan diri sendiri dan kesendirian, ah sudahlah).
Saya bersimpati pada Kurt Cobain, Jimi Hendrix atau Jim Morrison. Namun rasa simpati yang lebih besar hanya layak saya berikan untuk seorang musisi tidak terlalu terkenal asal Cambridge yang mati sangat muda. Dia meninggal bunuh diri jauh sebelum mengecap popularitas seperti yang diraih oleh ketiga musisi di atas. Penyanyi yang saya maksud adalah Nick Drake, anak muda melankolis dan penyendiri yang hanya sempat merekam tiga album folk akustik tanpa sempat merasakan panasnya lampu panggung atau derau sound system.
Dia mati pada usia 24 tahun, beberapa saat setelah merekam album terakhir dia dengan Island Records Pink Moon. Pada suatu malam di tahun 1974, Nick Drake merekam semua lagu Pink Moon hanya dengan gitar akustik dan beberapa denting piano, selesai, pergi ke kantor Island Records dan menyerahkan master tape Pink Moon ke sekretaris, pulang dan minum terlalu banyak obat penenang.
Terlalu sulit untuk menerka mengapa Nick Drake memilih jalan pintas itu. Tetapi ada satu hal yang pasti bahwa dia terlalu kecewa dengan kenyataan bahwa musik-musik indah yang dia ciptakan tidak bisa diterima oleh awam. Dua album pertama Nick Drake, Five Leaves Left dan Bryter Lyter adalah dua album penuh musik surgawi yang tidak hanya menonjolkan kemampuan Nick Drake dalam merangkai puisi, namun juga kejeniusan dia dalam menggubah lagu yang sangat melankolis dan sekaligus megah. Di Bryter Layter misalnya ada lagu yang berjudul “Fly”, di situ hanya ada gitar akustik, flute dan mandolin. Akan tetapi yang kita dengar dalam lagu itu adalah simponi liris tentang kesendirian dan harapan akan datangnya kehangatan cinta.
Yang lebih indah justru album debut Five Leaves Left (1969). Album ini berada pada nomor 280 dalam list RS 500. Direkam ketika Nick masih kuliah S-1 di Cambridge, album ini merupakan salah satu pencapaian estetik tertinggi di genre folk. Hampir semua lagu di Five Leaves Left diiringi orkestra yang secara megah diciptakan khusus untuk lagu-lagu karya Nick Drake. Mungkin bukan orkestra, chamber music mungkin sebutan yang lebih cocok. Album ini juga sangat menonjolkan cara memetik gitar Nick Drake yang luar biasa halus dan bening, sampai-sampai arranger Robert Kirby berani menciptakan aransemen orkestrasi hanya berdasar petikan gitar Nick Drake. Denting gitar akustik Nick Drake terasa paling liris di lagu berjudul “Cello Song”. Diiringi hanya perkusi dan cello yang menyayat di sisi kanan speaker, lagu ini mungkin lagu terbaik yang pernah memakai cello di dalamnya, di urutan kedua barulah lagu “Dumb” milik Nirvana.
Saya sudah lama memiliki Pink Moon dan Bryter Layter. Ketika saya sampai di Amerika, saya berniat untuk mencari piringan hitam kedua album tersebut. Setelah mencari kesana kemari, termasuk di eBay.com dan Amazon.com saya kemudian tahu kalau harga piringan hitam kedua album itu berkisar antara US$75 sampai $150. Ini adalah resiko kalau album yang tidak terlalu laku ketika pertama kali dirilis maka harganya sekarang menjadi mahal karena supply yang sedikit. Apa boleh buat saya hanya bisa menelan ludah sampai suatu ketika ada lelang di ebay yang menjual Five Leaves Left seharga $25. Alangkah kebetulan, saya belum memiliki CD album tersebut dan dengan kualitas album yang begitu bagus mengapa saya tidak membeli piringan hitamnya saja. Bagi saya membeli piringan hitam dengan harga dibawah $30 masih masuk akal.
Kembali ke Nick Drake, tidak seperti Kurt Cobain, yang memang sudah memiliki kecenderungan bunuh diri dan itu dia tuangkan dalam lagu-lagu semacam “All Apologies”, “Rape Me” atau “Come As You Are”, Nick Drake di album Five Leaves Left malah menulis puisi puisi indah tentang matahari hari Sabtu (di Saturday Sun), sore hari (di “Day is Done”) serta perumpamaan antara ketenaran dan pohon yang berbuah (di “Fruit Tree”). Namun dari lagu-lagu ini kita juga kemudian tahu bahwa dalam usia yang begitu muda, Nick Drake nampak seperti orang tua yang terlalu lelah untuk melanjutkan kehidupan. //When the day is done/Down to earth then sinks the sun/Along with everything that was lost and won//.

Comments
Post a Comment